Kasus Bilqis dan Suku Anak Dalam: Benturan Sosial yang Terjadi

Daftar Isi

Bilqis saat dibawa ke bandara untuk dipulangkan ke Makassar, dikawal aparat kepolisian (Foto: CNN Indonesia/Ilham)

Jambi – Kasus penculikan Bilqis Ramadhany (4) asal Makassar menyita perhatian publik setelah bocah itu ditemukan selamat di kawasan permukiman Suku Anak Dalam (SAD) di Kabupaten Merangin, Jambi. Dalam video yang beredar, sejumlah anggota SAD tampak menangis saat Bilqis dijemput oleh aparat kepolisian.

Polisi mengungkap, Bilqis sebelumnya dibawa oleh Sri Yuliana alias Ana (30), seorang pembantu rumah tangga di Makassar. Ia menawarkannya di grup Facebook “Adopsi Anak” dengan harga Rp3 juta, mengaku anak itu miliknya sendiri. Dari sana, Bilqis berpindah tangan ke Nadia Hutri (29) yang kemudian menjualnya lagi ke pasangan Adit Prayitno Saputra (36) dan Meriana (42) di Jambi seharga Rp15 juta. Pasangan tersebut lalu memperdagangkan Bilqis kepada kelompok SAD dengan nilai Rp80 juta.

Antropolog Robert Aritonang dari KKI Warsi menilai, SAD justru menjadi korban dalam kasus ini. Ia menyebut kelompok adat tersebut rentan dimanfaatkan karena kehilangan ruang hidup dan sumber ekonomi akibat ekspansi perkebunan.

“SAD berada dalam kondisi ‘crash landing social’, di mana mereka tiba-tiba berhadapan dengan dunia luar yang tidak sepenuhnya mereka pahami,” ujar Robert.

Menurut penelusuran Warsi, keluarga SAD yang menerima Bilqis tidak mengetahui bahwa anak itu hasil penculikan. Mereka diminta merawatnya oleh seseorang yang mengaku keluarga Bilqis, disertai surat bermaterai. Begitu mengetahui kebenarannya, anak itu langsung diserahkan ke pihak berwenang.

Robert menegaskan, penting bagi publik dan aparat untuk melihat kasus ini secara utuh, tanpa menambah stigma terhadap masyarakat adat.

“Yang harus diusut bukan hanya pelaku, tapi juga pihak-pihak yang memanfaatkan kerentanan SAD,” tegasnya.

Polisi kini telah menetapkan beberapa tersangka dan menelusuri jaringan perdagangan anak lintas provinsi yang disebut sudah memperjualbelikan sedikitnya sembilan bayi dan satu anak melalui media sosial.

Posting Komentar